Text
Love is The Answer
Dalam bab lainnya, Arvan juga seolah menentang pendapat sebagian besar motivator yang mengajarkan pada pengikutnya untuk hidup lebih efisien dan mengurangi kegiatan-kegiatan tak bermanfaat. Konsep efisien dan bermanfaat tersebut tentu patut dicurigai sebagai hal-hal yang berhubungan dengan kebergunaan secara material. Sementara Arvan justru berpendapat sebaliknya: tidak semua hal mesti efisien dan “bermanfaat”, justru hidup ini mesti lebih sering dijalani dengan lambat.rnrnMengapa demikian? Bagi Arvan, hidup yang serba tergesa-gesa, yang ingin mengejar segala-galanya dalam kerangka berpikir yang efisien dan “bermanfaat” itu, membuat kita mengabaikan cinta yang agape itu tadi. Mungkin kita tetap hidup dengan cinta lewat cara-cara yang demikian, tetapi cinta yang lebih dekat pada “birahi”, pada nafsu tak berkesudahan dalam mengejar ilusi bernama kesuksesan.rnrnCara menjalani hidup yang serba cepat juga menjadikan waktu semata-mata dihargai dalam konversinya menjadi uang (ingat prinsip klasik: “time is money”). Pandangan-pandangan demikianlah yang kemudian melahirkan hustle culture atau desakan-desakan seperti “punya rumah sebelum usia 30”, “sukses sebelum usia 30”, dan hal-hal semacamnya.rnrnSebaliknya, dalam hidup yang lambat, kita belajar untuk melihat sekeliling dengan lebih cermat dan teliti, mendengarkan sekitar dengan lebih seksama tanpa menghakimi, dan punya cukup waktu untuk menebar cinta dan kasih sayang. Dengan tegas Arvan menuliskan: kasih bukanlah ditumbuhkan dalam kecepatan, kasih ditumbuhkan dalam kelambatan.rnrnMeski ajarannya secara umum terbilang berbeda dari arus besar para motivator, Arvan tetap menuangkan gaya-gaya motivator di dalam bukunya, dengan menjadikan konsep cinta sebagai “panduan praktis” yang menunjuk langsung apa yang harus diperbuat oleh pembacanya.rnrnHal semacam itu tentu bukanlah hal yang keliru, hanya saja dapat membuat pembaca menjadi agak merasa dimanja dan tidak diberi terlalu banyak kesempatan untuk merefleksikan hakikat cinta itu sendiri. Meski demikian, “suapan” Arvan tidak bisa dikatakan mematikan daya kritis.rnrnJustru Love is the Answer membuat kita menjadi merenungkan: tidakkah para nabi dan orang-orang suci menjadi tinggi derajatnya, karena cinta? Karena mereka memutuskan untuk terus memberi, meski kehidupan sekelilingnya mengabaikan mereka? Padahal para nabi itu bisa saja masuk surga sendirian, tanpa perlu repot-repot berdinamika dengan massa.
| 2023.h.35277 | 158 PRA l | My Library | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain